Ada yang kangen ama gua? Huahaha… Kayaknya gak ada ya…
8 hari hiatus. Gak terlalu lama ya. Yah bagus lah gak lama-lama. Gua juga gak pengen lama-lama. Malah dulunya gua gak pernah terpikir akan pernah hiatus yang disebabkan karena emang gak ada hasrat nge-blog. Yup, kemaren ini gua hiatus bukan karena lagi pergi jalan-jalan (I wish I went on vacation…), tapi karena emang hasrat ngeblog gua hilang, lenyap!
Karena satu dan lain hal yang gak bisa (dan gak mau) gua ceritain disini, minggu lalu itu emang hasrat nge-blog dan blogwalking gua hilang, musnah, padam. Ternyata bisa ya begitu… Padahal kan gua ini termasuk orang yang addicted to blog!
Well anyway, thank God karena semuanya udah berlalu, so here I am…. Back to this blog! Moga-moga gua gak akan pernah ngalamin kayak gitu lagi ya…
Dan sebagai come-back edition, gua mau pajang poto-poto ah… Sebagai obat kangen…
Tenang… bukan foto gua kok… tapi foto Emma! Hahaha. *pasti yang ngebaca langsung pada lega karena gak dikasih liat foto gua! *
Tanggal 14 kemaren, Emma umur 4 bulan! Udah gede ya. Berat badannya (setelah ditimbang dengan cara yang luar biasa keren yaitu gua/Esther gendong Emma dan naik ke timbangan, trus gua/Esther tanpa Emma naik timbangan, nah berat nya tinggal dikurangi aja) diperkirakan 6.6 kg. Itu yang namanya pipi udah kayak mau tumpah. Apalagi perutnya! Huahaha. Abis nih anak ya ampun deh, nyusu mulu. Lucu sih, semakin menggemaskan untuk diuyel-uyel sampe anaknya marah.
Coba liat nih foto Emma yang paling gress (baru dipotret kemaren)… Liat aja tuh perutnya… Hehehe
<look at my milk belly…>
Semakin ileran juga. Dan mulai berusaha untuk mau nyembur-nyembur. Masih suka ngobrol (dulu si Andrew yang pas bayi diem aja sekarang jadi bawel gini, gimana ini si Emma yang dari bayi aja udah bawel ya? ), suka ngadu (keliatan dari mimiknya bisa ngerut-ngerut dahi nya kalo lagi ngadu), dan suka nyari perhatian banget (kalo dicuekin rada lama pasti teriak-teriak).
Kalo dari posisi tidur, trus tangannya kita pegangin, dia udah bisa narik badannya sendiri sampe posisi duduk (sit up). Jadi sekarang nih mulai gak suka posisi tiduran. Maunya didudukin, tapi ya tentu kudu dipegangin.
Trus juga semakin bisa megang mainan. Mainan yang digantung di bouncer nya yang dulunya selalu dicuekin, sekarang pasti dipegang-pegang. Gitu juga kalo lagi ditaruh goleran di karpet, juga dia selalu ngambil mainan buat…. dimakan! Yup… tetep aja nih apa-apa yang dipegang pasti dimasukin mulut. Hehe.
Dan udah bisa ketawa dengan bersuara. Tadinya kan kalo ketawa gak ada suaranya. Tapi ya belum bisa ngakak-ngakak sih, kalo ketawa keluar suaranya ‘Heeeh’ gitu… Hehehe.
Met ulang bulan ya Emma! Sehat-sehat terus ya! We love you to the max!
PS. Oh ya, ada lagi sih hasil pertapaan kemaren. Akhirnya setelah sekian lama, gua menelurkan (ayaaaam kaleee…) lagu baru nih (gimana mau jadi musisi ya, bikin lagu aja jarang-jarang begini… ). Lagunya udah ada di mixpod di blog ini. Atau kalo ada yang mau liat youtube nya, silakan klik disini. Kalo berkenan, boleh dong bantuin untuk ngedengerin lagu gua yang baru ini. Dan tolong juga kasih kritik/saran/pendapatnya… Thanks ya!
Badanku berguncang cukup keras. Berhenti sebentar lalu berguncang lagi.
Kubuka mataku dan tatapanku tertuju ke arah jendela kamar. Tirainya yang terbuka membuatku bisa melihat langit di luar sana yang masih gelap. Ah pasti semalam setelah selesai membaca novelnya, istriku lupa menutup tirai jendela.
Kembali badanku berguncang untuk kedua kalinya. Apakah ada gempa bumi? Tepat saat jam kuno di ruang tamu berdentang empat kali. Ah baru jam 4 pagi rupanya.
Ketika untuk ketiga kalinya badanku berguncang, baru aku menyadari bahwa tangan istriku lah yang membuat badangku terguncang-guncang.
Segera kubalikkan badanku, dan istriku sedang terduduk di ranjang berusaha membangunkanku.
“Ada apa?” Sungguh aku masih mengantuk.
“Aku baru bermimpi!” Istriku tersenyum manis sekali… Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat senyuman itu. “Aku bermimpi, ada seekor burung bangau terbang menghampiriku. Burung bangau itu membawa sebuah bungkusan di paruhnya. Bungkusan itu diletakkan persis di depan kaki ku sebelum dia terbang kembali. Bungkusan itu lalu terbuka, dan seorang bayi laki-laki yang lucu muncul dari dalam bungkusan itu!”
Aku diam saja. Tak tahu harus berkomentar apa.
“Itu sebuah pertanda! Aku yakin itu! Kita akan segera punya anak, sayang!”
Hah? Tak salah aku mendegar? Dia memanggilku sayang? Entah sudah berapa lama panggilan itu tak pernah aku dengar lagi. Sejak kita sudah menyerah 2 tahun yang lalu untuk tidak lagi mencoba segala macam pengobatan demi menimang seorang bayi yang tak pernah membuahkan hasil, tepat di hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-8. Sejak itu pula kehidupan kami mulai berubah. Rasanya semua berjalan hambar. Baik aku dan istriku, masing-masing menyibukkan diri dengan pekerjaan kami. Bekerja lembur dan pulang malam sudah jadi santapan sehari-hari. Sabtu Minggu hanya kami habiskan di rumah. Istriku membaca novel, sementara aku menonton TV. Rasanya sudah tak ada lagi hasrat untuk jalan-jalan ke Mal, malas bertemu teman dan keluarga. Mungkin takut luka itu kembali terbuka saat melihat anak-anak kecil yang lucu berlarian kesana kemari.
Tapi mimpi di malam itu merubah segalanya. Istriku yang tiba-tiba menjadi bersemangat dan riang gembira karena tetap merasa bahwa mimpi itu akan menjadi kenyataan, pada akhirnya berhasil membuatku tertular. Kehidupan kami bergairah kembali. Tak ada lagi lembur-lembur tak penting di kantor. Tak ada lagi tidur saling memunggungi. Tak ada lagi acara akhir pekan yang hambar. Semua tergantikan dengan makan malam romantis, jalan-jalan ke Puncak, gandengan tangan, dan pelukan mesra. Rasanya waktu berjalan mundur ke 10 tahun yang lalu! Rasanya seperti kembali pada masa-masa pacaran dulu. Dan aku bahagia. Kami bahagia.
Dan kebahagiaan kami itu pun semakin lengkap, ketika pada suatu hari, istriku menunjukkan hasil test kehamilan yang dilakukannya setelah 2 minggu terlambat datang bulan.
Istriku hamil! Mimpi di malam hari beberapa waktu yang lalu itu benar-benar menjadi kenyataan! Tak terbayangkan betapa senangnya kami berdua.
Dan sejak itu waktupun berputar sangat cepat. Kehidupan kami pun mulai berubah. Berubah menjadi sangat-sangat menyenangkan tentunya! Dari kunjungan-kunjungan ke dokter yang selalu kutunggu-tunggu karena itu saatnya aku bisa melihat si bayi kecil di layar USG, dari perjalanan dari mal ke mal untuk membeli barang-barang kebutuhan bayi, sampai pada hari kelahiran bayi laki-laki kami yang sungguh sangat lucu (sumpah baru sekali itu aku melihat bayi yang terlucu di dunia!), melihatnya belajar merangkak, menghadiri begitu banyak pesta-pesta ulang tahun anak-anak teman dan saudara, dan hingga sampailah pada hari ulang tahun pertama anakku!
Besok kami akan mengadakan pesta yang sangat meriah. Walaupun memakan anggaran yang cukup besar, tapi kami tak keberatan. Rasanya tak sabar ingin segera berganti hari esok, saat aku akan menggendong anakku dengan bangganya sambil menerima ucapan selamat dari semua undangan yang datang!
Memikirkan tentang pesta besok membuatku tak bisa tidur. Sementara istriku sudah terlelap sambil menggendong anakku yang ketiduran setelah menyusu. Ah pemandangan yang luar biasa indahnya… Melihat 2 manusia yang paling aku cintai di dunia ini…
Kukecup kening istriku, kukecup pipi anakku, sebelum akhirnya aku benar-benar jatuh tertidur… Rasanya malam itu aku tertidur sambil tersenyum…
Badanku berguncang cukup keras. Berhenti sebentar lalu berguncang lagi.
Kubuka mataku dan tatapanku tertuju ke arah jendela kamar. Tirainya yang terbuka membuatku bisa melihat langit di luar sana yang masih gelap.
Kembali badanku berguncang untuk kedua kalinya. Tepat saat jam kuno di ruang tamu berdentang empat kali. Ah baru jam 4 pagi rupanya.
Hmm… rasanya seperti dejavu.
Ketika untuk ketiga kalinya badanku berguncang, baru aku menyadari bahwa tangan istriku lah yang membuat badangku terguncang-guncang.
Segera kubalikkan badanku, dan istriku sedang terduduk di ranjang berusaha membangunkanku. Kupandangi sekeliling ranjang. Kemana anakku? Dia tak ada disini! Kemana ranjang bayi yang seharusnya ada di sebelah ranjang kami? Kemana mainan-mainan yang berserakan di lantai?
Apakah selama ini semuanya cuma mimpi? Ah… semuanya hanya mimpi. Sungguh aku menjadi sangat kecewa…
“Aku baru bermimpi!” Istriku tersenyum manis sekali… “Aku bermimpi, ada seekor burung bangau terbang menghampiriku. Burung bangau itu membawa sebuah bungkusan di paruhnya…”
Tapi… hey… aku ingat bahwa semua kejadian ini sama persis dengan mimpi ku barusan! Tirai jendela yang terbuka, jam berdentang empat kali, istriku yang membangunkan ku untuk menceritakan mimpinya, mimpi istriku tentang si burung bangau… Apakah ini benar-benar pertanda bahwa mimpi ku akan menjadi kenyataan?
“Lalu, apakah bungkusan itu diletakkan di kakimu?” tanyaku penuh antusias.
“Iya! Bungkusan itu diletakkan persis di depan kaki ku sebelum dia terbang kembali. Bungkusan itu lalu terbuka…”
“Lalu… apa isinya?” Jantungku berdegup kencang sekali saking senangnya…
“Kosong…”
* Burung Bangau, Fiction, written by Arman Tjandrawidajaja, Jakarta, 2002 * Whimsical Dream, Song, originally composed by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, July 26, 2010
Copyrights, all rights reserved
**********
Ada yang pernah punya pengalaman mimpi (mimpi yang bunga tidur ya, bukan mimpi dalam artian angan-angan) menjadi kenyataan? Gua so far belum pernah lho punya mimpi yang terus beneran jadi kenyataan, soalnya biasanya gua mimpinya selalu aneh-aneh. Hehe.
PS. If you can’t view the video, please click here.
PS lagi. Setelah 8 bulan, akhirnya berhasil nulis lagu lagi nih. Hehehe. Please let me know what you think, ok? Any feedbacks/comments are highly appreciated. Thank you!!
Bulan Desember selalu jadi bulan favorit buat gua. Karena apa? Karena semakin berasa banget suasana Natalnya. Gua emang suka banget ama segala sesuatu yang berbau Natal.
Bulan ini, saluran-saluran TV pada berlomba-lomba muter film bernuansa Natal. Mal-mal udah pada dihias pake hiasan Natal. Pohon Natal ada dimana-mana, bahkan di kantor gua pun udah dipasang pohon Natalnya (sayang kita taun ini gak pasang pohon Natal).
Dan yang paling gua seneng adalah karena lagu Natal juga udah mulai berkumandang!
Gua sih terus terang salut banget ama para pencipta lagu-lagu Natal. Kok bisa nyiptain lagu yang gak bisa bikin yang denger bosen. Gua gak pernah lho bosen ama lagu-lagu Natal, padahal lagunya kan ya kebanyakan itu lagi, itu lagi. Lagu yang baru bisa diitung pake jari. Dan malah lagu-lagu yang lama yang lebih berasa gimanaaaa gitu.
Yah semacem O Holy Night, The Christmas Song, I’ll Be Home For Christmas, Have Yourself A Merry Little Christmas, Silent Night, dan lagu-lagu sejenisnya. Emang tiap artis yang nyanyi selalu berusaha untuk bikin arrangement yang beda. Tapi kan nada lagunya ya tetep aja sama. Dan gua gak pernah bosen lho!
Dari sejak ABG, gua tiap tahun selalu beli kaset album Natal. Dan setelah gede berganti beli CD. Tiap tahun pasti ada 1 atau 2 CD album Natal yang gua beli. Gak mesti selalu yang baru keluar, yang lama-lama pun gua beli kalo emang belum punya. Mariah Carey, Christina Aguilera, Natalie Cole, Babyface, Whitney Houston, Il Divo, Barbra Streissand, Jim Brickman, Dave Koz, macem-macem dah! You name it, rasanya hampir semua gua punya. Hehehe. Taun ini kita beli Tony Bennet dan N’Sync (yang N’Sync jelas udah keluaran lama, dulu gua punyanya kaset, jadi sekarang beli CD nya). Dan semuanya gua suka! Biasa kalo beli album-album biasa kan paling beberapa lagu yang enak, yang lain gak enak. Kalo beli album Natal tuh semuanya gua suka! Hehehe.
Dan biasa dari akhir November, di mobil gua udah pasang CD-CD Natal gua. Di rumah juga, kalo lagi gak nonton TV, lagi nyantai-nyantai, atau bahkan buat soundtrack kalo lagi bersih-bersih rumah, gua pasang lagu Natal.
Denger lagu-lagu Natal tuh rasanya gimanaaaa gitu… Beda banget dibanding kalo denger lagu-lagu biasa.
Nah kalo tahun lalu kan gua bikin cerpen Natal buat ditaroh di blog… Tahun ini gua nyoba-nyoba bikin lagu Natal deh. Hehe. Jelas jauh dah dibandingin lagu-lagu Natal yang udah ada… Yah namanya juga lagi belajar dan nyoba-nyoba… Hehehe. Tolong pada kasih masukan ya… Thank you!
Trus, selain itu, Natal tentunya identik dengan kado-kado Natal dong ya… Nah udah pada beli kado belum??
Andrew kali ini udah lebih ngerti tentang Santa Claus. Dia udah request ke Santa Claus (yang di Mal), kalo dia minta talking book (bukunya bisa ngomong gitu). Kita emang udah beliin bukunya tapi masih diumpetin. Trus waktu itu si Andrew ngomong ke kita, nanti pas Natal, kita taruh cookie ama susu ya buat Santa Claus. Taun lalu emang kita begitu sih, tapi gua gak nyangka kalo dia masih inget lho! Nah ini yang sempet bikin bingung. Kan kadonya gak bakal kita bawa ke Indo secara kotaknya gede… Tapi ntar pas Natal kan kita di Indo… Ntar kalo dia ngasih cookie ama susu tapi gak ada kadonya, gimana dong?? Takutnya dia kecewa kan… Jadilah kita bilang ke dia kalo Santa nya gak ke Indonesia, kejauhan. Jadi ntar kadonya dianter ke LA dan dia baru bisa dapet kadonya setelah balik dari Indo. Huahahaha…
Nah kalo kado Natal buat gua sendiri kali ini adalah… mudik!! Yihaaaaa!!!
Yup sodara-sodara, besok kita mau mudik dulu yaaaaaaaaaaa…. Jadi gak akan ada update lagi di blog ini sampe nanti awal Januari ya!! Buat yang dateng kemari dan kecewa karena gak ada posting baru, silakan baca-baca posting yang lama aja ya… Hehehe. Tapi janji kok, gua akan update lagi ntar awal Januari!
So… Merry Christmas ya semuanyaaaaa… We wish you a very wonderful holiday!!!
Sampe ketemu lagi tahun depan!
PS. Kok ya pas ya, ini lagu emang dari awal gua bikin dengan membayangkan hujan salju (walaupun di LA gak bersalju), eh kok ternyata WordPress ada bikin salju-saljuan selama Desember ini… Pas banget! Hehe.
PS lagi. Snowfall, originally written by Arman Tjandrawidjaja, LA, November 21, 2009 (copyright, all rights reserved).
PS yang terakhir. If you can’t view the video, please click here.
Dari sekian banyak tamu Kafeku, ada 2 tamu yang merupakan favoritku. Mereka tidak terlalu sering datang. Hanya kadang-kadang saja mereka datang, itu pun di malam hari. Kehadirannya yang hanya sekali-sekali justru membuatku semakin mengharap-harapkannya.
Seorang perempuan dengan anak laki-lakinya. Sang perempuan bertubuh sedang, berkulit putih bersih, berambut hitam panjang, cantik sekali. Di wajahnya berpendar cahaya. Senyumnya sangat keibuan. Matanya begitu indah, membawa kesejukan bagi yang melihatnya. Gerak-geriknya sungguh mempesona.
Anak laki-lakinya berusia 2 tahun. Anak yang tampan. Badannya kecil untuk ukuran seusianya. Namun dia pandai dan aktif sekali. Dia suka tersenyum. Kepada siapa saja. Senyumnya sunggu manis. Semua orang berkata begitu. Ramah sekali kepada semua orang, semua tamu dan karyawanku menyukainya.
Mereka selalu datang saat hari sudah malam. Sekitar pukul 8 atau 9 malam. Menunggu sang ayah yang sedang bekerja larut, untuk kemudian bersama-sama pulang.
Saat aku bekerja, baik itu di balik kasir, ataupun sedang mengantar bon pembayaran ke meja-meja, selalu kusempatkan untuk melirik perempuan dan anak itu. Sekedar melihat sedang apa mereka. Kadang bila kebetulan mata kami saling bertatap, kami saling menukar senyum.
Ada saja yang mereka lakukan untuk menunggu waktu. Bermain dengan sendok dan garpu, bermain dengan tatakan piring, apa saja dapat dibuat menjadi mainan. Suara tawa mereka sungguh renyah. Apalagi bila sang anak tertawa terbahak-bahak, sungguh membuat orang yang mendengarkan ingin ikut bermain bersama mereka.
Kadang terpancar kelelahan di wajah sang ibu. Merawat seorang anak batita tentu sangat melelahkan. Apalagi tak terlihat adanya babysitter yang membantunya. Sungguh besar pengorbanannya, demi memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun walaupun lelah, tak pernah sekalipun dia memarahi anaknya bila anaknya berbuat nakal. Dia dengan sabar selalu memberi tahu, mengajarkan mana yang baik dan tidak baik, mana yang boleh dan tidak boleh. Dan sang anak selalu mendengarkan dengan diam sambil mengangguk-angguk. Entah benar mengerti atau tidak.
Saat sang anak mulai mengantuk, sang ibu akan menggendongnya. Tak perlu disuruh, karena sang anak pun langsung memintanya. Mungkin itu adalah tempat ternyaman di seluruh dunia ini. Gendongan seorang ibu. Sang ibu pun segera menggendong dengan penuh kasih, sambil sesekali membelai rambut si anak yang tipis. Kadangkala sang anak menjadi rewel dan tidak bisa tidur, sehingga sesekali sang ibu minta izin menggunakan ruangan kantor yang kecil untuk menyusui anaknya. Sungguh pengorbanan seorang ibu. Tapi tak pernah terlihat rasa sesal di wajahnya. Yang terpancar hanya rasa cinta yang luar biasa.
Ah, sungguh beruntung sang ayah. Mempunyai istri seperti perempuan itu. Mempunyai anak seperti anak itu.
Hingga sang anak telah terlelap dalam gendongan. Hingga semua tamu Kafeku telah pergi meninggalkan mejanya. Hingga karyawanku satu per satu minta izin pulang. Hingga kini giliranku untuk mematikan lampu dan pendingin ruangan.
Lalu kugandeng tangan perempuan itu, yang masih sambil menggendong sang anak yang tertidur dengan nyenyaknya. Dan kami pun melangkah keluar bersama. Pintu pun kukunci.
Sang ayah telah selesai bekerja, dan mereka pun pulang… bersama-sama.
* Tamu Favorit, Fiction, written by Arman, Jakarta, May 25, 2007
*One Beautiful Day, Song, originally composed by Arman, LA, July 18, 2009
Copyrights, all rights reserved
**********
Salah satu yang membuat hari menjadi indah adalah saat pulang kerja ada istri dan anak yang menyambut kita di rumah… Setuju saudara-saudara??
PS. Cerita ini repost doang, jadi maap buat yang udah pernah baca sebelumnya… Gua cuma merasa lagu nya cocok buat cerita ini…
PS lagi. If you can’t view the video, please click here.
Pindah ke kota yang baru selalu menjadi pengalaman yang tak menyenangkan bagiku. Tapi apa daya, pekerjaan ayah membuat kita selalu berpindah-pindah. Dan sekarang, disinilah aku, di kota yang sepi ini, yang bahkan saat matahari mulai akan terbenam saja sudah tak ada lagi orang-orang berkeliaran di jalan.
Mati gaya aku rasanya di dalam rumah. Tak tahu lagi harus melakukan apa. Di TV tak ada siaran yang bagus, mau tidur pun rasanya belum terlalu mengantuk.
Suasana malam yang sangat sunyi membuat telingaku menjadi lebih peka. Samar-samar kudengar alunan musik. Musik itu berdenting-denting. Bukan suara piano. Apalagi gitar, sudah pasti bukan. Musik itu berasal dari sebuah kotak musik. Aku yakin kalian semua pernah melihat kotak musik bukan? Sebuah kotak yang bila dibuka akan mengalunkan dentingan lagu dan sebuah boneka penari akan mulai berputar-putar.
Awalnya tak terlalu kuhiraukan lagu itu. Namun karena lagu itu diputar berulang-ulang, dan berulang-ulang, membuatku mulai merasa penasaran dari mana lagu itu berasal.
Kubuka jendela kamar supaya musik itu semakin jelas terdengar. Dan tak perlu berlama-lama mencari sumbernya, mataku langsung jatuh pada jendela yang terletak persis berhadapan dengan jendela kamarku. Jendela rumah sebelah.
Dan disana kulihat pemandangan yang terindah yang pernah kulihat. Seorang gadis sedang menari!
Gadis itu sungguh cantik. Dikelilingi temaramnya lilin-lilin yang menyala, kulitnya yang putih seperti berpendar cahaya. Rambutnya yang hitam diikat dengan pita merah muda. Bajunya baju ballerina dengan rok mengembang. Tangannya mengayun dengan gemulai. Kakinya yang jenjang berputar dan meloncat begitu lincah.
Tarian yang paling indah yang pernah aku lihat. Hanya diiringi sebuah lagu waltz dari kotak musik yang berputar berulang-ulang.
Indah… Sungguh sangat indah…
Hingga akhirnya lagu itu berhenti. Aku pun tersentak kaget. Kulihat gadis itu menutup kotak musiknya dan mulai meniup lilin-lilinnya satu per satu. Hingga pada lilin terakhir yang terletak tepat di depan jendela, dia pun melihat ke arahku. Sungguh kaget dan malu rasanya, ketahuan sedang mengintip. Wajahku memerah panas, dan rasanya ingin langsung kututup tirai jendela supaya dia tak melihatku.
Tapi ternyata aku hanya tertegun. Tanganku tak bisa bergerak. Melihat matanya yang bulat, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang mungil, membuatku semakin terpana.
Apakah dia akan marah melihat aku mengintipnya? Apakah dia akan benci padaku? Aduh… kenal saja belum! Sungguh menyesal aku telah meninggalkan kesan pertama yang sangat buruk. Seharusnya aku tadi jangan terbuai. Seharusnya begitu melihatnya selesai menari aku langsung bersembunyi. Seharusnya…
Seharusnya aku tak perlu berpikir yang tidak-tidak, karena ternyata dia tersenyum melihatku! Iya.. gadis itu tersenyum! Aku yakin itu! Gadis itu tersenyum padaku sebelum akhirnya dia meniup lilin yang terakhir dan menutup tirai jendelanya.
Ah… Langsung kuhempaskan badanku ke ranjang. Jantungku tak berhenti berdegup. Senyumannya itu tak pernah bisa kulupakan. Senyuman termanis yang pernah kulihat. Inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Malam itu pun aku langsung terlelap begitu nyenyaknya…
Begitu matahari bersinar, aku segera bergegas. Ku kenakan baju yang terbagus yang aku punya. Ku semprotkan sedikit parfum. Bahkan aku pun menyisir rambutku!
Pandangan aneh dari kedua orang tuaku, tak kuhiraukan. Segera kulangkahkan kaki ke rumah sebelah.
Dan segera kuketuk pintu rumah itu.
Tapi bagaimana bila yang membuka pintu bukan gadis itu sendiri? Apa yang akan kukatakan bila ditanya ingin mencari siapa? Bagaimana bila ternyata yang membuka pintu adalah ayahnya yang galak? Atau ibunya yang cerewet?
Ah… aku tak tahu jawabannya. Aku tak punya rencana. Aku tak punya strategi. Aku hanya ingin mengetuk pintu rumahnya dan berkenalan dengannya. Itu saja. Titik.
Kuketuk lagi rumah itu untuk yang kesekian kalinya. Namun tetap tak ada jawaban.
Akhirnya dengan lemas, aku pun kembali pulang. Dan ayah ibuku yang terheran-heran melihat sikap anaknya ini membuat ku terpaksa bercerita apa adanya. Tak ada salahnya juga aku bercerita, siapa tahu mereka kenal dengan tetangga sebelah itu. Begitu pikirku.
Dan ternyata benar dugaanku. Orang tuaku tahu tentang tetangga sebelah rumah.
Bahwa memang tetangga sebelah rumah itu mempunyai seorang anak gadis. Bahwa memang si gadis itu adalah seorang penari. Bahwa mereka bertiga telah meninggal karena kecelakaan mobil tak lama sebelum kami pindah ke rumah ini. Dan bahwa rumah itu sekarang kosong tak ada yang menempati!
Jadi merinding aku mendengar cerita itu. Lalu siapa gadis cantik yang menari dengan sangat indahnya itu yang aku lihat semalam? Ah, aku rasa itu hanyalah mimpi…
Hingga malam kembali menjelang. Saat aku hendak beranjak tidur, kembali sayup-sayup kudengar dentingan lagu dari kotak musik itu. Sebuah lagu waltz. Masih lagu yang sama yang diputar berulang-ulang.
Tanpa sadar, kupalingkan wajahku ke arah jendela. Terlihat pendaran cahaya lilin-lilin dari jendela rumah sebelah. Dan di sana… seraut wajah cantik sedang tersenyum kepadaku.
Segera kuhampiri jendela kamarku. Dan kututup tirainya.
* Music Box: A Prelude, song, originally composed by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, July 5, 2009
* Music Box, fiction, written by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, July 17, 2009
Copyrights, All Rights Reserved
Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kamu sedang berteduh di halte depan sekolah. Pas aku kebetulan lewat dan aku juga pas bawa payung. Aku tawarin kamu untuk jalan bareng dan kamu gak ada pilihan lain kalo gak mau telat masuk kelas. Dari sejak itu kita jadi kenal dan mulai akrab.
Padahal sebenernya hari itu aku dianter supir dan biasanya aku akan diturunin pas di gerbang sekolah. Tapi aku ngeliat kamu lagi nunggu di halte, jadi aku minta diturunin di perempatan dan melanjutkan jalan kaki pake payung. Supirku bilang aku aneh, tapi dia gak tau kalo saat seperti itu udah aku tunggu-tunggu sejak lama. Saat dimana aku bisa ngajak kamu berkenalan…
Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kita baru keluar dari gedung bioskop. Itu pertama kalinya kita pergi berduaan aja ya. Biasanya kan kita selalu perginya rame-rame. Dan waktu itu kamu udah bingung banget karena udah terlalu malam dan takut dimarahin ama papi kamu, sementara yang ngantri taxi di depan gedung bioskop panjang banget karena lagi hujan. Dan aku pun rela nyebrang jalan, sampe basah kuyup, demi manggil taxi di sebrang jalan dan ngajak taxinya muter untuk ngejemput kamu. Teriakan kamu yang nyuruh aku jangan nekad nyebrang hujan-hujanan, aku cuekin. Walaupun aku kedinginan, tapi aku bangga dan seneng banget pas kamu bilang terima kasih sambil ngegenggam tanganku yang gemetaran di dalam taxi. Dari sejak itu kita pun jadian dan gak malu lagi untuk bergandengan tangan.
Padahal sebenernya hari itu aku bawa payung lho di dalam tas ranselku. Tapi sengaja gak aku keluarin. Aku mau sok jadi pahlawan, yang rela menerjang hujan demi nyariin taxi buat kamu…
Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kita taruhan apakah dosen Ekonomi kita yang rajin banget itu bakal tetep masuk ngajar atau gak. Aku bilang gak bakal ada kuliah, tapi kamu tetep keukeuh bilang pasti ada karena memang si pak dosen itu terkenal banget rajinnya. Bahkan pernah pas hampir seluruh Jakarta kebanjiran pun, kuliah Ekonomi tetep jalan terus. Tapi akhirnya kamu kalah taruhan karena hari itu pak dosen memang gak masuk. Dan karena kalah, kamu pun gak bisa mengelak pas ciumanku mendarat di bibirmu. Hehe… itu ciuman pertama kita ya…
Padahal sebenernya hari itu aku udah tau kalo pak dosen gak akan masuk. Semalam waktu aku nganterin papa mama ke airport, aku ketemu si pak dosen. Dia cerita kalo mendadak harus pulang ke kampung halamannya karena ibunya sakit parah. Jadi pak dosen bukan gak masuk gara-gara hujan…
Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kamu nyuruh-nyuruh aku segera bangun dan mandi. Tapi aku masih mau meluk kamu di ranjang di hari kedua kita menjadi suami istri. Waktu itu aku janji aku akan ngelepas pelukanku kalo hujannya berhenti. Dan kamu setuju aja karena saat itu harusnya udah musim kemarau jadi kamu pikir hujannya pasti cuma sebentar aja. Apa daya ternyata hari itu hujan terus menerus sampe sore, sampe kita kelaperan dan mesti order room service aja karena aku tetep gak mau ngelepas pelukanku… Hehehe.
Padahal sebenernya kemaren sorenya aku udah liat di berita kalo memang hari itu bakal hujan seharian. Kamu aja yang gak ngeh karena sore kemaren kamu masih sibuk retouch make up untuk resepsi pernikahan kita malemnya…
Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kita harus melewatkan malam tahun baru di kamar rumah sakit gara-gara jalanan yang macet total dimana-mana. Mana rumah kita jauh pula dari rumah sakit, jadi kita putusin untuk gak maksain pulang malam itu mengingat kondisimu yang masih agak lemah. Jadi akhirnya aku beli kembang api dan kita nyalain di kamar rumah sakit sambil ngumpet-ngumpet takut dimarahin kalo ketauan ama suster yang galak. Dan kita becanda-canda terus sepanjang malam sambil ngakak-ngakak gak jelas.
Padahal sebenernya malem itu jalanan gak macet total kok, itu aku ngarang-ngarang aja. Paginya dokter udah bilang ama aku kalo kondisimu semakin memburuk. Si kanker yang kita kira udah hilang ternyata malah menyebar, makanya kamu gak diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Aku sengaja bilang ke dokter untuk gak ngasih tau dulu ke kamu. Aku gak pengen kamu tambah sedih dan down…
Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan aku menggenggam tanganmu di kamar ICU sambil tak hentinya aku berdoa mohon supaya kamu bisa sadar kembali. Gak tau udah seberapa banyak air mataku yang keluar dan mengalir ke tanganmu, sambil berharap kalo hangatnya air mataku bisa membuat tanganmu yang dingin kembali bergerak. Gak tau udah seberapa banyak ciumanku di matamu, sambil berharap kecupanku bisa membuat matamu kembali terbuka. Gak tau udah seberapa banyak kata yang aku ucapkan di telingamu, sambil berharap ceritaku bisa membuat bibirmu kembali tersenyum…
Padahal dokter udah bilang kalo gak ada lagi harapan. Hanya tinggal menunggu waktu. Semua orang udah menyuruhku pulang untuk berisitirahat karena toh tak ada yang bisa aku lakukan disini. Tapi aku gak mau, aku gak mau sedetikpun gak melihat kamu…
Dan malam ini pun hujan deras banget…
Aku kembali basah kuyup, tapi aku gak peduli. Aku mau duduk disini saja. Aku mau selalu disampingmu. Aku cuma mau disini.
Di depan pusaramu…
* Midnight Rain, song, originally composed by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, May 24, 2009
* Midnight Rain, fiction, written by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, June 17, 2009
Copyrights, All Rights Reserved
Kalo ngomongin tentang hujan, emang selalu aja ada 2 sisi. Bisa seneng, bisa sedih.
Di satu sisi, gua suka banget ama hujan, gua suka nyium bau-bau hujan, gua suka ngeliat titik-titik air yang jatuh di kaca, gua suka dengerin bunyi hujan, gua suka ama suasana mendung-mendung gelap kalo pas lagi hujan, dan tentunya gua suka ama udara yang dingin karena hujan terutama kalo pas lagi musim panas.
Tapi gua gak suka kalo hujan nya bikin jalanan macet, bikin rumah bocor, bikin kita ribet takut keujanan karena parkirnya di tempat yang gak ada teduhannya, apalagi kalo bikin banjir! Satu lagi yang bikin bete adalah kalo mobil baru dicuci, eh trus hujan!! Hehehe.
Paling asik emang ujan itu pas tengah malem, pas kita lagi tidur, selimutan dan nempel-nempel tidurnya ama orang-orang yang kita cintai. Nikmat banget dah…
Kalo kalian gimana… Pada suka atau justru benci ama hujan?
Siapa sih yang gak suka ngelamun? Apalagi kalo lagi di kantor. Di sela-sela suntuknya kerja, apa lagi yang lebih enak dari ngebayangin lagi main-main ama anak di rumah, dengerin ketawanya mereka, atau ngebayangin lagi berduaan ama istri, atau ngebayangin lagi pergi liburan, jalan-jalan… Apa aja bisa jadi lamunan. Lu gak perlu duit untuk ngelamun pergi ke Paris, gak perlu sayap buat ngelamun terbang ke bulan, gak perlu kapal buat ngelamun menikmati sunset di pulau… Apa pun bisa!
Tujuan Ngelamun
Ngelamun itu penting lho. Terutama buat yang lagi di kantor. Tujuannya jelas untuk menjernihkan pikiran, menghilangkan kebosanan, menghilangkan kebutekan. Intinya, ngelamun itu buat refreshing!
Strategi Ngelamun
Jangan salah, ngelamun tuh jangan dilakukan sembarangan. Perlu ada strategi untuk bisa ngelamun yang baik dan benar. Terutama untuk yang ngelamun di kantor tadi. Tujuan dari strategi ini ya tentunya supaya jangan sampe ketahuan dong! Bayangin kalo lu ngelamun dan ketauan… Ya kalo ketauan temen doang sih masih mending, paling malu doang, tapi kalo ketauan bos? Wah jangan lah… apalagi lagi jaman krisis begini kan…
Nah ini beberapa strategi untuk ngelamun yang baik dan benar:
1. Waktu Yang Tepat
Waktu yang tepat untuk ngelamun tuh di saat-saat orang lain gak liat tentunya. Biasanya pas pagi-pagi pas orang-orang masih belum dateng atau lagi pada sarapan, atau siang-siang menjelang atau sesudah jam makan siang, atau 1 jam sebelum jam pulang kantor dimana orang-orang rata-rata udah pada gak konsen kerja.
Jangan ngelamun di saat-saat lagi sibuk-sibuknya orang kerja, dimana bos lu kemungkinan besar bakal mondar-mandir dan bisa bikin lu ketauan kalo lagi ngelamun!
2. Situasi Kantor
Paling asik tentunya kalo bos lagi gak ada. Aman tentram dah. Tapi kalo ada pun, bukan berarti lu gak bisa ngelamun kan. Cuma lu mesti pinter-pinter liat situasi. Liat dulu kalo bos lu keliatannya lagi sibuk di kantornya, atau dia lagi meeting, atau lagi telpon… Nah aman dah buat ngelamun.
Tapi jangan ngelamun kalo 10 menit yang lalu bos lu baru ngasih lu kerjaan dan dia bilang suruh kelarin kerjaan itu dalam 10 menit! Berarti tiap saat, bos lu bisa tau-tau nongol untuk nanyain kerjaan lu! Atau jangan ngelamun pas lagi detik-detik menjelang go live project dimana bisa aja tiap saat ada user yang dateng untuk minta lu ngelakuin ini atau itu.
3. Kondisi Badan
Sebaiknya ngelamun itu dilakukan waktu badan dalam kondisi yang sehat.
Hindari ngelamun kalo lu lagi ngantuk berat atau lagi ngefly karena abis minum obat keran lu lagi sakit flu. Karena ini bisa bikin lu ketiduran pas lagi ngelamun. Dan ngelamun sampe ketiduran itu sangat-sangat perlu dihindarkan! Apalagi kalo lu model orang yang kalo udah ketiduran jadi ngorok dan susah bangun. Waduh gawat dah!
4. Bahan Lamunan
Perlu lho dipikirin apa yang mau lu lamunkan. Sebaiknya kalo ngelamun tuh ngebayangin hal-hal yang menyenangkan. Kayak contoh-contoh gua di atas itu. Ngelamunin anak, istri, liburan…
Jangan ngelamunin krisis ekonomi, bos yang rese, kerjaan menumpuk, utang-utang… Yang ada ntar abis ngelamun bukannya jadi fresh malah lu jadi stress!
Eh juga jangan ngelamun kosong lho. Serem lah… ntar kalo kesambet malah ribet!
5. Lamanya Ngelamun The last but not least, perlu dibatasi lamanya ngelamun.
Namanya juga ngelamun, kan asik ya… Bisa ngebayangin apa aja yang asik-asik. Jadi biasanya orang jadi keterusan kalo lagi ngelamun. Nah ini bahaya! Jangan kelamaan kalo ngelamun! Karena kalo ngelamunnya kelamaan, bisa memperbesar kemungkinan untuk ketahuan! Apalagi ngelamun kelamaan bisa bikin lu jadi ketiduran juga.
Lebih baik ngelamun nya gak lama-lama tapi sering, daripada cuma sekali ngelamun tapi sejam!
Nah untuk itu perlu ada time keeper nya nih, biar lu gak keterusan ngelamunnya. Jangan pake jam weker ya, soalnya ntar alarm nya bikin panik orang sekantor. Jangan pake alarm HP, soalnya ntar dikira bos lu, lu mainan HP pas lagi jam kerja. Jangan minta tolong temen lu untuk ngingetin lu kalo udah waktunya selesai ngelamunnya, karena jaman gini gak ada orang yang bisa dipercaya, siapa yang tau kalo ternyata ama temen lu malah diaduin ke bos lu kalo lu lagi ngelamun?
Nah solusi yang paling tepat adalah ngedenger lagu! Jadi lu pasang lagu dan lu ngelamun selama 1 lagu itu aja. Pas lagunya kelar ya udah ngelamunnya kelar dulu.
Sekarang masalahnya lagunya kudu gimana? Yang pasti jangan lagu yang ada liriknya. Karena ntar instead of ngelamun, lu jadi karaokean ntar. Lagunya harus instrumental yang sederhana aja, jangan yang rumit kayak lagu klasik atau lagu jazz, ntar yang ada lu malah pusing.
Ok, udah paham semuanya?
Yuk, mari kita ngelamun….
PS. Ada yang punya strategi ngelamun yang lebih mantap?? Atau punya pengalaman ngelamun yang memalukan? Hehehe….
All comments and critics are highly appreciated! Thank you!!
Jadi ceritanya kan gua ulang tahun dong hari ini, dan buat gua ulang tahun itu is a big deal. Gua terbiasa dari kecil selalu merayakan ulang tahun, ya jadinya begitu pun tahun ini. Apalagi gua udah lama gak pergi liburan kan, bahkan waktu anniversary pun kita gak sempet kemana-mana. Jadi udah direncanain sejak lama kalo pas gua ulang tahun ini, kita bakal ke Disneyland lagi selama 2 hari. Gua udah cuti, udah booking hotel, udah beli tiket buat Esther (tiket buat gua gratis karena ulang tahun). Andrew pun excited banget karena dia suka nyanyi lagu It’s A Small World, jadi dia pengen banget untuk ke It’s A Small World. Bahkan kemaren pun Andrew saking senengnya tuh sampe loncat-loncat, lari-lari, dan teriak-teriak pas kita lagi beres-beres barang-barang buat dibawa. Baju-bajunya dihitung-hitung ama dia. Pokoknya seneng banget dah. Esther juga udah masak mie buat dibawa (hotel kita bakalan ada dapurnya kan jadi kita bisa manasin makanan). Pokoknya semua perlengkapan udah siap. Tas baju, makanan, minuman, semuanya dah. Tapi apa daya, manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Semalem jam 11 malem, pas kita udah mau tidur, Andrew demam! 39.3 C! Jadi mau gimana, ya jelas semuanya jadi batal. Langsung cancel hotel. Hari ini jadi gak kemana-mana deh. Andrew masih demam juga. Sedih banget, kecewa banget. Tapi ya mau gimana lagi…
Emang sih Disneyland gak akan kemana-mana, kapan kapan juga kita masih bisa kesana. Tapi gua asli kecewa banget soalnya gua udah looking forward banget. Mungkin pada gak kebayang ya masa gitu aja kecewa, tapi ya itu tadi gua bilang, gua udah lama gak pergi liburan dan pengen banget pergi liburan!
Belum lagi, hari Sabtu kemaren juga kita dapet berita buruk kalo ternyata kita gak bisa refinance mortgage kita! Setelah ngurusin sebulan, setelah semuanya hampir beres, ternyata akhirnya gak bisa aja gitu! Males gua cerita detilnya. Soalnya asli bikin kecewa berat!
Gara-gara 2 hal itu, gua jadi gak bisa tidur semalem. Pagi tadi pun jadi males mau ngapa-ngapain. Trus akhirnya gua main piano asal-asalan… eh akhirnya entah kenapa kok jadi lagu. Gua gak tau bagus atau gak, namanya juga baru belajar ya. Menurut Esther sih yah lumayan.. hehe.. tapi masa dia bilang gak bagus ya… kan ini gua lagi ulang tahun. Huahaha. Makanya gua coba taroh sini deh. Pada komen ya, gua pengen tau aja pendapat orang gimana. Kalo menurut lu bagus ya tolong bilang bagus, kalo menurut lu jelek ya tolong bilang jelek. Kalo ada kritik dan saran akan lebih baik lagi…
Thank you!!
PS. Oya, tolong bantuin doain Andrew biar cepet sembuh ya!! Menurut dokter sih bukan swine flu, keliatannya sih virus biasa aja.
PS lagi. Kalo ada yang penasaran (ya kalo ada aja sih, kalo gak ya gak apa-apa hehe) kenapa judulnya Morning Dew, sebenernya kayak yang gua ceritain di atas, pas bikin lagunya gua gak ngebayangin apa-apa, jadi pas lagunya udah jadi trus mau nyari judul kok jadi bingung. Hehehe. Tapi karena lagunya dibikinnya di pagi hari jadi ya judulnya nyari yang berkaitan dengan ‘morning’ gitu…