Arsip Kategori: My Writing

Siapa Bilang Cinta Itu Buta?

Siapa bilang kalo cinta itu buta?

Jelas-jelas aku bisa melihatnya. Matanya yang bulat, hidungnya yang mancung, bibirnya yang mungil. Rambutnya yang hitam, jarinya yang lentik, kulitnya yang putih. Senyumnya yang manis, gerakannya yang anggun. Sungguh cantik sekali. Tak heran kan kalo aku mencintainya.

Siapa bilang kalo cinta itu buta?

Kalo bisu, mungkin iya. Seperti saat ini. Saat kita berdua duduk berhadapan di café ini. Tak perlu cerita, tak perlu kata-kata. Hanya ditemani 2 cangkir cappuccino. Cukup diam dan saling pandang, toh cinta itu tetap ada.

Siapa bilang kalo cinta itu buta?

Kalo tuli, mungkin iya. Entah sudah berapa lagu terputar disini, tak ada satupun yang aku dengar. Entah sudah berapa kali handphone ku berbunyi, tak ada satupun yang aku hiraukan. Kupingku mendadak tuli karena ada dia di depanku. Dia, yang aku cintai itu.

Siapa bilang kalo cinta itu buta?

Buta sih enggak lah ya, tapi kalo bikin jantung berdebar-debar sih iya. Belum lagi panas dingin, gemeteran… Tapi yang penting hati senang ya… :D

Siapa bilang kalo cinta itu buta?

Eh… lho kemana dia? Kok tiba-tiba meja di depan situ udah kosong? Kok aku gak ngeh kalo cappuccino nya sudah habis? Kok aku gak ngeliat pas dia lagi bayar minumannya? Kok aku sampe gak tau kalo dia udah pergi???

Yahhh…. Padahal mengajaknya kenalan aja aku belum sempat!

Jadi… siapa sih yang bilang kalo cinta itu gak buta?

* Siapa Bilang Cinta Itu Buta?, fiction, written by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, February 7, 2011
* Waiting, original song, composed by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, February 7, 2011

**********

Cuma mau ngingetin aja, kalo udah berkaitan dengan cinta, jangan pernah menunggu! Yang mau nembak, mau ngelamar, mau ngajak kenalan, atau mau bilang cinta… Langsung aja. Trust me, yang namanya ‘menunggu waktu yang tepat’ itu gak pernah ada, karena ‘waktu yang tepat’ itu ya adalah sekarang ini. Jangan sampai kebanyakan menunggu akhirnya malah terlambat (orangnya udah keburu pergi lah, atau malah keduluan orang lain lah), ntar malah nyesel sendiri… Ya kan? :D

PS. Gua ikut berduka cita atas meninggalnya Adjie Massaid. Kemaren ini Esther ngasih gua baca twitter nya Angelina Sondakh. Tweet pertamanya dia setelah Adjie Massaid meninggal dunia: “I love you forever and always ya darl, i will wait for you mas adjie to pick me up”.

Ya ampun, ngebacanya gua sampe berasa sedih banget… Gua bahkan gak berani untuk sekedar nyoba mikir kalo gua jadi dia bakal berasa gimana ya. Gak berani gua!

Moga-moga keluarga yang ditinggalkan bisa tabah dan kuat ya!

PS lagi. Seperti biasa, kalo video di atas gak bisa dibuka, bisa langsung klik disini ya!

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , ,

Whimsical Dream

Badanku berguncang cukup keras. Berhenti sebentar lalu berguncang lagi.

Kubuka mataku dan tatapanku tertuju ke arah jendela kamar. Tirainya yang terbuka membuatku bisa melihat langit di luar sana yang masih gelap. Ah pasti semalam setelah selesai membaca novelnya, istriku lupa menutup tirai jendela.

Kembali badanku berguncang untuk kedua kalinya. Apakah ada gempa bumi? Tepat saat jam kuno di ruang tamu berdentang empat kali. Ah baru jam 4 pagi rupanya.

Ketika untuk ketiga kalinya badanku berguncang, baru aku menyadari bahwa tangan istriku lah yang membuat badangku terguncang-guncang.

Segera kubalikkan badanku, dan istriku sedang terduduk di ranjang berusaha membangunkanku.

“Ada apa?” Sungguh aku masih mengantuk.

“Aku baru bermimpi!” Istriku tersenyum manis sekali… Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihat senyuman itu. “Aku bermimpi, ada seekor burung bangau terbang menghampiriku. Burung bangau itu membawa sebuah bungkusan di paruhnya. Bungkusan itu diletakkan persis di depan kaki ku sebelum dia terbang kembali. Bungkusan itu lalu terbuka, dan seorang bayi laki-laki yang lucu muncul dari dalam bungkusan itu!”

Aku diam saja. Tak tahu harus berkomentar apa.

“Itu sebuah pertanda! Aku yakin itu! Kita akan segera punya anak, sayang!”

Hah? Tak salah aku mendegar? Dia memanggilku sayang? Entah sudah berapa lama panggilan itu tak pernah aku dengar lagi. Sejak kita sudah menyerah 2 tahun yang lalu untuk tidak lagi mencoba segala macam pengobatan demi menimang seorang bayi yang tak pernah membuahkan hasil, tepat di hari ulang tahun pernikahan kita yang ke-8. Sejak itu pula kehidupan kami mulai berubah. Rasanya semua berjalan hambar. Baik aku dan istriku, masing-masing menyibukkan diri dengan pekerjaan kami. Bekerja lembur dan pulang malam sudah jadi santapan sehari-hari. Sabtu Minggu hanya kami habiskan di rumah. Istriku membaca novel, sementara aku menonton TV. Rasanya sudah tak ada lagi hasrat untuk jalan-jalan ke Mal, malas bertemu teman dan keluarga. Mungkin takut luka itu kembali terbuka saat melihat anak-anak kecil yang lucu berlarian kesana kemari.

Tapi mimpi di malam itu merubah segalanya. Istriku yang tiba-tiba menjadi bersemangat dan riang gembira karena tetap merasa bahwa mimpi itu akan menjadi kenyataan, pada akhirnya berhasil membuatku tertular. Kehidupan kami bergairah kembali. Tak ada lagi lembur-lembur tak penting di kantor. Tak ada lagi tidur saling memunggungi. Tak ada lagi acara akhir pekan yang hambar. Semua tergantikan dengan makan malam romantis, jalan-jalan ke Puncak, gandengan tangan, dan pelukan mesra. Rasanya waktu berjalan mundur ke 10 tahun yang lalu! Rasanya seperti kembali pada masa-masa pacaran dulu. Dan aku bahagia. Kami bahagia.

Dan kebahagiaan kami itu pun semakin lengkap, ketika pada suatu hari, istriku menunjukkan hasil test kehamilan yang dilakukannya setelah 2 minggu terlambat datang bulan.

Istriku hamil! Mimpi di malam hari beberapa waktu yang lalu itu benar-benar menjadi kenyataan! Tak terbayangkan betapa senangnya kami berdua.

Dan sejak itu waktupun berputar sangat cepat. Kehidupan kami pun mulai berubah. Berubah menjadi sangat-sangat menyenangkan tentunya! Dari kunjungan-kunjungan ke dokter yang selalu kutunggu-tunggu karena itu saatnya aku bisa melihat si bayi kecil di layar USG, dari perjalanan dari mal ke mal untuk membeli barang-barang kebutuhan bayi, sampai pada hari kelahiran bayi laki-laki kami yang sungguh sangat lucu (sumpah baru sekali itu aku melihat bayi yang terlucu di dunia!), melihatnya belajar merangkak, menghadiri begitu banyak pesta-pesta ulang tahun anak-anak teman dan saudara, dan hingga sampailah pada hari ulang tahun pertama anakku!

Besok kami akan mengadakan pesta yang sangat meriah. Walaupun memakan anggaran yang cukup besar, tapi kami tak keberatan. Rasanya tak sabar ingin segera berganti hari esok, saat aku akan menggendong anakku dengan bangganya sambil menerima ucapan selamat dari semua undangan yang datang!

Memikirkan tentang pesta besok membuatku tak bisa tidur. Sementara istriku sudah terlelap sambil menggendong anakku yang ketiduran setelah menyusu. Ah pemandangan yang luar biasa indahnya… Melihat 2 manusia yang paling aku cintai di dunia ini…

Kukecup kening istriku, kukecup pipi anakku, sebelum akhirnya aku benar-benar jatuh tertidur… Rasanya malam itu aku tertidur sambil tersenyum…

Badanku berguncang cukup keras. Berhenti sebentar lalu berguncang lagi.

Kubuka mataku dan tatapanku tertuju ke arah jendela kamar. Tirainya yang terbuka membuatku bisa melihat langit di luar sana yang masih gelap.

Kembali badanku berguncang untuk kedua kalinya. Tepat saat jam kuno di ruang tamu berdentang empat kali. Ah baru jam 4 pagi rupanya.

Hmm… rasanya seperti dejavu.

Ketika untuk ketiga kalinya badanku berguncang, baru aku menyadari bahwa tangan istriku lah yang membuat badangku terguncang-guncang.

Segera kubalikkan badanku, dan istriku sedang terduduk di ranjang berusaha membangunkanku. Kupandangi sekeliling ranjang. Kemana anakku? Dia tak ada disini! Kemana ranjang bayi yang seharusnya ada di sebelah ranjang kami? Kemana mainan-mainan yang berserakan di lantai?

Apakah selama ini semuanya cuma mimpi? Ah… semuanya hanya mimpi. Sungguh aku menjadi sangat kecewa…

“Aku baru bermimpi!” Istriku tersenyum manis sekali… “Aku bermimpi, ada seekor burung bangau terbang menghampiriku. Burung bangau itu membawa sebuah bungkusan di paruhnya…”

Tapi… hey… aku ingat bahwa semua kejadian ini sama persis dengan mimpi ku barusan! Tirai jendela yang terbuka, jam berdentang empat kali, istriku yang membangunkan ku untuk menceritakan mimpinya, mimpi istriku tentang si burung bangau… Apakah ini benar-benar pertanda bahwa mimpi ku akan menjadi kenyataan?

“Lalu, apakah bungkusan itu diletakkan di kakimu?” tanyaku penuh antusias.

“Iya! Bungkusan itu diletakkan persis di depan kaki ku sebelum dia terbang kembali. Bungkusan itu lalu terbuka…”

“Lalu… apa isinya?” Jantungku berdegup kencang sekali saking senangnya…

“Kosong…”

* Burung Bangau, Fiction, written by Arman Tjandrawidajaja, Jakarta, 2002
* Whimsical Dream, Song, originally composed by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, July 26, 2010

Copyrights, all rights reserved

**********

Ada yang pernah punya pengalaman mimpi (mimpi yang bunga tidur ya, bukan mimpi dalam artian angan-angan) menjadi kenyataan? Gua so far belum pernah lho punya mimpi yang terus beneran jadi kenyataan, soalnya biasanya gua mimpinya selalu aneh-aneh. Hehe. :D

PS. If you can’t view the video, please click here.

PS lagi. Setelah 8 bulan, akhirnya berhasil nulis lagu lagi nih. Hehehe. Please let me know what you think, ok? Any feedbacks/comments are highly appreciated. Thank you!! :)

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Introducing: My New Blog!

Setelah kecanduan setengah mati ngeblog di WordPress, trus terperosok dalam lembah Twitter, sekarang tambah lagi nih kejerat jebakan Posterous.

Dipikir-pikir, ngapain coba gua sampe nulis disana-sini kayak begitu, lha ngeblog di WP aja suka sampe gak ada ide mau nulis apa kok malah sok-sok-an nambah-nambah ke Twitter dan Posterous segala?

Well, buat gua, 3 media itu tujuannya berbeda-beda walaupun tentu aja ada benang merahnya, yaitu semuanya ya cuma tulisan tentang kehidupan sehari-hari gua aja. Iya cuma cerita kehidupan gua… yang tentunya gak penting menurut orang lain, tapi menurut gua penting lho… makanya perlu gua tulis! Hahaha. :P

WordPress

- Tulisan disini relatif hampir selalu panjang dan dengan cerita yang detil. Kalo perlu bahkan ditambah dengan banyak foto-foto. Tentunya ini buat merekam kejadian-kejadian yang menurut gua perlu gua kenang di masa yang akan datang.

- Tulisan disini suka gua baca-baca lagi di kemudian hari. Dan karena ceritanya yang detil, ditunjang foto, bikin gua bisa jadi nostalgia lagi ke masa-masa lalu.

- Walaupun cuma tentang kehidupan sehari-hari, tulisannya gak bersifat spontan. Gua mikir dulu juga lho mau nulisnya gimana. Seringnya malah gua nulis draft dulu di notepad. Kalo udah sreg baru gua copy paste ke WP. Jarang banget gua nulis blog langsung di WP, soalnya kadang udah nulis panjang-panjang bisa aja gua hapus lagi dan gua tulis ulang dengan gaya penulisan yang berbeda. Gaya banget gak sih gua? Hahaha. Tapi emang kadang kejadian lho kayak begitu. Pokoknya gua berusaha banget supaya tulisannya enak buat gua baca-baca lagi nantinya.

- Jadi jelas cukup time consuming dah untuk bikin tulisan di WP ini. Apalagi kalo pake foto. Walah ngedit foto dan bikin collage nya aja bisa lebih lama daripada bikin tulisannya. Hahaha. Belum kalo mau pake ilustrasi musik lagi… Tambah lama lagi dah. :P

- Gak semua kejadian sehari-hari menurut gua cocok jadi topik tulisan di WP. Kalo kejadiannya cuma rutinitas, gua juga males nulisnya. Jadi topiknya kudu milih-milih. Makanya itu kadang (hmmm sering sih…) gua suka sampe keabisan ide mau nulis apa lagi ya… Masalahnya gua sendiri yang nyari gara-gara sih. Gua menargetkan diri sendiri kalo dalam sebulan harus minimal ada 8 posting-an. Ya sebenernya cuma untuk memotivasi diri aja sih biar gak males nulis dan untuk memacu otak biar mikir. Tapi ternyata emang susah ya mau memenuhi 8 tulisan per bulan itu… Hahaha.

Twitter

- Udah jelas, tulisan di sini ya cuma pendek aja. Lha udah dibatesin cuma boleh 140 karakter, gimana mau panjang-panjang… :P

- Tulisan disini bukan untuk gua baca-baca lagi di kemudian hari. Udah ditulis ya udah.

- Tulisannya bersifat spontan. Yang lagi terjadi saat itu, kalo emang pengen ditulis ya ditulis aja saat itu juga. Gak pake mikir, gak pake draft. Kayak celetukan aja, kalo mau nyeletuk ya nyeletuk aja.

- Jadi tentunya sangat gak time consuming. Ya ngetik paling cuma berapa detik ya. Foto pun ya kalo ada yang di HP aja. Tentunya gak pake edit-editan. Kalo ada foto ya tinggal dikirim aja.

- Gak ada yang gak cocok untuk jadi topik tulisan di Twitter. Apa aja bisa di tweet. Tinggal mood nya aja yang main. Lagi pengen nge-tweet atau gak. :D Jadi rata-rata tiap hari gua pasti ada nge-tweet. Kadang malah sehari bisa sampe berkali-kali!

Nah trus belakangan ini bertambah lagi yaitu Posterous. Kalo buat gua, Posterous ini ada di tengah-tengah antara WP dan Twitter. Yang rasanya gak cocok untuk ditulis di WP maupun Twitter, nah ini gua tulis di Posterous.

Posterous

- Tulisan gua disini akan selalu relatif pendek. Tapi tentunya akan lebih panjang dari Twitter, karena sebenernya di Posterous gak ada batasan karakter. Cuma gua aja yang memilih untuk nulis pendek, karena topik yang gua pilih untuk ditulis di Posterous emang cocoknya untuk tulisan pendek aja. Kalo topiknya cocok jadi tulisan panjang ya akan gua tulis di WP.

- Sama kayak WP, tulisan di Posterous juga akan gua baca-baca lagi di kemudian hari.

- Karena sifatnya lebih untuk kenangan tapi pendek-pendek aja, jadinya sifatnya ya cukup spontan. Tentunya gak sespontan nulis di Twitter, karena untuk Posterous pun gua pake mikir dulu sebelum nulis. Tapi mikirnya gak akan selama kalo nulis di WP.

- Karena tulisannya pendek ya jelas gak time consuming. Apalagi keunggulan Posterous, kita tuh posting nya bisa dari email. Jadi gak perlu log in dulu ke website nya.

- Yang jadi topik di Posterous adalah topik yang gak terlalu perlu cerita detil (kayak di WP) tapi topiknya cukup penting sampe gua pengen mengenang. Sampe sekarang, gua gak ada target harus seberapa sering nulis di Posterous. Jadi ya mirip kayak Twitter lah, tergantung mood juga. Kalo lagi mood bisa sehari lebih dari sekali, tapi kalo gak mood dan gak ada cerita ya bisa gak sama sekali. :)

- Satu lagi, di Posterous, gua nyoba-nyoba untuk nulis dalam bahasa Inggris. Hehehe. Iseng aja sih. Tapi ini juga yang kadang bikin ribet, soalnya grammar gua kan pas-pas-an ya. Jadi kadang udah post, pas dibaca-baca lagi kok berasa salah ya, jadi kudu di-edit. Hahaha. Itu pun gak gua jamin kalo grammar gua udah bener sekarang. :P

Yah begitulah ceritanya sekarang gua nulis di 3 media. Jadi… buat yang punya blog, mari kita saling tukeran link yuk… buat yang punya Twitter, mari kita saling follow… dan buat yang punya Posterous, mari kita saling subscribe! :)

Btw, ini link blog Posterous gua: http://myquotes.posterous.com, kalo ada yang berkenan, boleh dong mampir kesana buat baca-baca, and tell me what you think! Thank you! :) Cuma ya maapkan kalo ada yang salah ya bahasa Inggrisnya…

PS. Kalo kalian, nulisnya di media apa aja? Mau cerita kenapa kok nulis di media-media itu? Siapa tau kalo ada media lain yang lebih menarik ntar gua nambah nulis disana. Huahaha marukkkkk… :P

Dengan kaitkata , , , , , ,

One Beautiful Day

Dari sekian banyak tamu Kafeku, ada 2 tamu yang merupakan favoritku. Mereka tidak terlalu sering datang. Hanya kadang-kadang saja mereka datang, itu pun di malam hari. Kehadirannya yang hanya sekali-sekali justru membuatku semakin mengharap-harapkannya.

Seorang perempuan dengan anak laki-lakinya. Sang perempuan bertubuh sedang, berkulit putih bersih, berambut hitam panjang, cantik sekali. Di wajahnya berpendar cahaya. Senyumnya sangat keibuan. Matanya begitu indah, membawa kesejukan bagi yang melihatnya. Gerak-geriknya sungguh mempesona.

Anak laki-lakinya berusia 2 tahun. Anak yang tampan. Badannya kecil untuk ukuran seusianya. Namun dia pandai dan aktif sekali. Dia suka tersenyum. Kepada siapa saja. Senyumnya sunggu manis. Semua orang berkata begitu. Ramah sekali kepada semua orang, semua tamu dan karyawanku menyukainya.

Mereka selalu datang saat hari sudah malam. Sekitar pukul 8 atau 9 malam. Menunggu sang ayah yang sedang bekerja larut, untuk kemudian bersama-sama pulang.

Saat aku bekerja, baik itu di balik kasir, ataupun sedang mengantar bon pembayaran ke meja-meja, selalu kusempatkan untuk melirik perempuan dan anak itu. Sekedar melihat sedang apa mereka. Kadang bila kebetulan mata kami saling bertatap, kami saling menukar senyum.

Ada saja yang mereka lakukan untuk menunggu waktu. Bermain dengan sendok dan garpu, bermain dengan tatakan piring, apa saja dapat dibuat menjadi mainan. Suara tawa mereka sungguh renyah. Apalagi bila sang anak tertawa terbahak-bahak, sungguh membuat orang yang mendengarkan ingin ikut bermain bersama mereka.

Kadang terpancar kelelahan di wajah sang ibu. Merawat seorang anak batita tentu sangat melelahkan. Apalagi tak terlihat adanya babysitter yang membantunya. Sungguh besar pengorbanannya, demi memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun walaupun lelah, tak pernah sekalipun dia memarahi anaknya bila anaknya berbuat nakal. Dia dengan sabar selalu memberi tahu, mengajarkan mana yang baik dan tidak baik, mana yang boleh dan tidak boleh. Dan sang anak selalu mendengarkan dengan diam sambil mengangguk-angguk. Entah benar mengerti atau tidak.

Saat sang anak mulai mengantuk, sang ibu akan menggendongnya. Tak perlu disuruh, karena sang anak pun langsung memintanya. Mungkin itu adalah tempat ternyaman di seluruh dunia ini. Gendongan seorang ibu. Sang ibu pun segera menggendong dengan penuh kasih, sambil sesekali membelai rambut si anak yang tipis. Kadangkala sang anak menjadi rewel dan tidak bisa tidur, sehingga sesekali sang ibu minta izin menggunakan ruangan kantor yang kecil untuk menyusui anaknya. Sungguh pengorbanan seorang ibu. Tapi tak pernah terlihat rasa sesal di wajahnya. Yang terpancar hanya rasa cinta yang luar biasa.

Ah, sungguh beruntung sang ayah. Mempunyai istri seperti perempuan itu. Mempunyai anak seperti anak itu.

Hingga sang anak telah terlelap dalam gendongan. Hingga semua tamu Kafeku telah pergi meninggalkan mejanya. Hingga karyawanku satu per satu minta izin pulang. Hingga kini giliranku untuk mematikan lampu dan pendingin ruangan.

Lalu kugandeng tangan perempuan itu, yang masih sambil menggendong sang anak yang tertidur dengan nyenyaknya. Dan kami pun melangkah keluar bersama. Pintu pun kukunci.

Sang ayah telah selesai bekerja, dan mereka pun pulang… bersama-sama.

* Tamu Favorit, Fiction, written by Arman, Jakarta, May 25, 2007

*One Beautiful Day, Song, originally composed by Arman, LA, July 18, 2009

Copyrights, all rights reserved

**********

Salah satu yang membuat hari menjadi indah adalah saat pulang kerja ada istri dan anak yang menyambut kita di rumah… Setuju saudara-saudara?? :)

PS. Cerita ini repost doang, jadi maap buat yang udah pernah baca sebelumnya… Gua cuma merasa lagu nya cocok buat cerita ini… :)

PS lagi. If you can’t view the video, please click here.

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , , ,

Music Box

Pindah ke kota yang baru selalu menjadi pengalaman yang tak menyenangkan bagiku. Tapi apa daya, pekerjaan ayah membuat kita selalu berpindah-pindah. Dan sekarang, disinilah aku, di kota yang sepi ini, yang bahkan saat matahari mulai akan terbenam saja sudah tak ada lagi orang-orang berkeliaran di jalan.

Mati gaya aku rasanya di dalam rumah. Tak tahu lagi harus melakukan apa. Di TV tak ada siaran yang bagus, mau tidur pun rasanya belum terlalu mengantuk.

Suasana malam yang sangat sunyi membuat telingaku menjadi lebih peka. Samar-samar kudengar alunan musik. Musik itu berdenting-denting. Bukan suara piano. Apalagi gitar, sudah pasti bukan. Musik itu berasal dari sebuah kotak musik. Aku yakin kalian semua pernah melihat kotak musik bukan? Sebuah kotak yang bila dibuka akan mengalunkan dentingan lagu dan sebuah boneka penari akan mulai berputar-putar.

Awalnya tak terlalu kuhiraukan lagu itu. Namun karena lagu itu diputar berulang-ulang, dan berulang-ulang, membuatku mulai merasa penasaran dari mana lagu itu berasal.

Kubuka jendela kamar supaya musik itu semakin jelas terdengar. Dan tak perlu berlama-lama mencari sumbernya, mataku langsung jatuh pada jendela yang terletak persis berhadapan dengan jendela kamarku. Jendela rumah sebelah.

Dan disana kulihat pemandangan yang terindah yang pernah kulihat. Seorang gadis sedang menari!

Gadis itu sungguh cantik. Dikelilingi temaramnya lilin-lilin yang menyala, kulitnya yang putih seperti berpendar cahaya. Rambutnya yang hitam diikat dengan pita merah muda. Bajunya baju ballerina dengan rok mengembang. Tangannya mengayun dengan gemulai. Kakinya yang jenjang berputar dan meloncat begitu lincah.

Tarian yang paling indah yang pernah aku lihat. Hanya diiringi sebuah lagu waltz dari kotak musik yang berputar berulang-ulang.

Indah… Sungguh sangat indah…

Hingga akhirnya lagu itu berhenti. Aku pun tersentak kaget. Kulihat gadis itu menutup kotak musiknya dan mulai meniup lilin-lilinnya satu per satu. Hingga pada lilin terakhir yang terletak tepat di depan jendela, dia pun melihat ke arahku. Sungguh kaget dan malu rasanya, ketahuan sedang mengintip. Wajahku memerah panas, dan rasanya ingin langsung kututup tirai jendela supaya dia tak melihatku.

Tapi ternyata aku hanya tertegun. Tanganku tak bisa bergerak. Melihat matanya yang bulat, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang mungil, membuatku semakin terpana.

Apakah dia akan marah melihat aku mengintipnya? Apakah dia akan benci padaku? Aduh… kenal saja belum! Sungguh menyesal aku telah meninggalkan kesan pertama yang sangat buruk. Seharusnya aku tadi jangan terbuai. Seharusnya begitu melihatnya selesai menari aku langsung bersembunyi. Seharusnya…

Seharusnya aku tak perlu berpikir yang tidak-tidak, karena ternyata dia tersenyum melihatku! Iya.. gadis itu tersenyum! Aku yakin itu! Gadis itu tersenyum padaku sebelum akhirnya dia meniup lilin yang terakhir dan menutup tirai jendelanya.

Ah… Langsung kuhempaskan badanku ke ranjang. Jantungku tak berhenti berdegup. Senyumannya itu tak pernah bisa kulupakan. Senyuman termanis yang pernah kulihat. Inikah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Malam itu pun aku langsung terlelap begitu nyenyaknya…

Begitu matahari bersinar, aku segera bergegas. Ku kenakan baju yang terbagus yang aku punya. Ku semprotkan sedikit parfum. Bahkan aku pun menyisir rambutku!

Pandangan aneh dari kedua orang tuaku, tak kuhiraukan. Segera kulangkahkan kaki ke rumah sebelah.

Dan segera kuketuk pintu rumah itu.

Tapi bagaimana bila yang membuka pintu bukan gadis itu sendiri? Apa yang akan kukatakan bila ditanya ingin mencari siapa? Bagaimana bila ternyata yang membuka pintu adalah ayahnya yang galak? Atau ibunya yang cerewet?

Ah… aku tak tahu jawabannya. Aku tak punya rencana. Aku tak punya strategi. Aku hanya ingin mengetuk pintu rumahnya dan berkenalan dengannya. Itu saja. Titik.

Kuketuk lagi rumah itu untuk yang kesekian kalinya. Namun tetap tak ada jawaban.

Akhirnya dengan lemas, aku pun kembali pulang. Dan ayah ibuku yang terheran-heran melihat sikap anaknya ini membuat ku terpaksa bercerita apa adanya. Tak ada salahnya juga aku bercerita, siapa tahu mereka kenal dengan tetangga sebelah itu. Begitu pikirku.

Dan ternyata benar dugaanku. Orang tuaku tahu tentang tetangga sebelah rumah.

Bahwa memang tetangga sebelah rumah itu mempunyai seorang anak gadis. Bahwa memang si gadis itu adalah seorang penari. Bahwa mereka bertiga telah meninggal karena kecelakaan mobil tak lama sebelum kami pindah ke rumah ini. Dan bahwa rumah itu sekarang kosong tak ada yang menempati!

Jadi merinding aku mendengar cerita itu. Lalu siapa gadis cantik yang menari dengan sangat indahnya itu yang aku lihat semalam? Ah, aku rasa itu hanyalah mimpi…

Hingga malam kembali menjelang. Saat aku hendak beranjak tidur, kembali sayup-sayup kudengar dentingan lagu dari kotak musik itu. Sebuah lagu waltz. Masih lagu yang sama yang diputar berulang-ulang.

Tanpa sadar, kupalingkan wajahku ke arah jendela. Terlihat pendaran cahaya lilin-lilin dari jendela rumah sebelah. Dan di sana… seraut wajah cantik sedang tersenyum kepadaku.

Segera kuhampiri jendela kamarku. Dan kututup tirainya.

* Music Box: A Prelude, song, originally composed by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, July 5, 2009
* Music Box, fiction, written by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, July 17, 2009
Copyrights, All Rights Reserved

If you can’t view the video, please click here.

**********

Ada yang pernah punya pengalaman dengan ‘dunia lain’? :)

Have a nice weekend, folks!

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Midnight Rain

Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kamu sedang berteduh di halte depan sekolah. Pas aku kebetulan lewat dan aku juga pas bawa payung. Aku tawarin kamu untuk jalan bareng dan kamu gak ada pilihan lain kalo gak mau telat masuk kelas. Dari sejak itu kita jadi kenal dan mulai akrab.

Padahal sebenernya hari itu aku dianter supir dan biasanya aku akan diturunin pas di gerbang sekolah. Tapi aku ngeliat kamu lagi nunggu di halte, jadi aku minta diturunin di perempatan dan melanjutkan jalan kaki pake payung. Supirku bilang aku aneh, tapi dia gak tau kalo saat seperti itu udah aku tunggu-tunggu sejak lama. Saat dimana aku bisa ngajak kamu berkenalan… :D

Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kita baru keluar dari gedung bioskop. Itu pertama kalinya kita pergi berduaan aja ya. Biasanya kan kita selalu perginya rame-rame. Dan waktu itu kamu udah bingung banget karena udah terlalu malam dan takut dimarahin ama papi kamu, sementara yang ngantri taxi di depan gedung bioskop panjang banget karena lagi hujan. Dan aku pun rela nyebrang jalan, sampe basah kuyup, demi manggil taxi di sebrang jalan dan ngajak taxinya muter untuk ngejemput kamu. Teriakan kamu yang nyuruh aku jangan nekad nyebrang hujan-hujanan, aku cuekin. Walaupun aku kedinginan, tapi aku bangga dan seneng banget pas kamu bilang terima kasih sambil ngegenggam tanganku yang gemetaran di dalam taxi. Dari sejak itu kita pun jadian dan gak malu lagi untuk bergandengan tangan.

Padahal sebenernya hari itu aku bawa payung lho di dalam tas ranselku. Tapi sengaja gak aku keluarin. Aku mau sok jadi pahlawan, yang rela menerjang hujan demi nyariin taxi buat kamu… :D

Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kita taruhan apakah dosen Ekonomi kita yang rajin banget itu bakal tetep masuk ngajar atau gak. Aku bilang gak bakal ada kuliah, tapi kamu tetep keukeuh bilang pasti ada karena memang si pak dosen itu terkenal banget rajinnya. Bahkan pernah pas hampir seluruh Jakarta kebanjiran pun, kuliah Ekonomi tetep jalan terus. Tapi akhirnya kamu kalah taruhan karena hari itu pak dosen memang gak masuk. Dan karena kalah, kamu pun gak bisa mengelak pas ciumanku mendarat di bibirmu. Hehe… itu ciuman pertama kita ya… :D

Padahal sebenernya hari itu aku udah tau kalo pak dosen gak akan masuk. Semalam waktu aku nganterin papa mama ke airport, aku ketemu si pak dosen. Dia cerita kalo mendadak harus pulang ke kampung halamannya karena ibunya sakit parah. Jadi pak dosen bukan gak masuk gara-gara hujan… :P

Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kamu nyuruh-nyuruh aku segera bangun dan mandi. Tapi aku masih mau meluk kamu di ranjang di hari kedua kita menjadi suami istri. Waktu itu aku janji aku akan ngelepas pelukanku kalo hujannya berhenti. Dan kamu setuju aja karena  saat itu harusnya udah musim kemarau jadi kamu pikir hujannya pasti cuma sebentar aja. Apa daya ternyata hari itu hujan terus menerus sampe sore, sampe kita kelaperan dan mesti order room service aja karena aku tetep gak mau ngelepas pelukanku… Hehehe.

Padahal sebenernya kemaren sorenya aku udah liat di berita kalo memang hari itu bakal hujan seharian. Kamu aja yang gak ngeh karena sore kemaren kamu masih sibuk retouch make up untuk resepsi pernikahan kita malemnya… :P

Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan kita harus melewatkan malam tahun baru di kamar rumah sakit gara-gara jalanan yang macet total dimana-mana. Mana rumah kita jauh pula dari rumah sakit, jadi kita putusin untuk gak maksain pulang malam itu mengingat kondisimu yang masih agak lemah. Jadi akhirnya aku beli kembang api dan kita nyalain di kamar rumah sakit sambil ngumpet-ngumpet takut dimarahin kalo ketauan ama suster yang galak. Dan kita becanda-canda terus sepanjang malam sambil ngakak-ngakak gak jelas.

Padahal sebenernya malem itu jalanan gak macet total kok, itu aku ngarang-ngarang aja. Paginya dokter udah bilang ama aku kalo kondisimu semakin memburuk. Si kanker yang kita kira udah hilang ternyata malah menyebar, makanya kamu gak diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Aku sengaja bilang ke dokter untuk gak ngasih tau dulu ke kamu. Aku gak pengen kamu tambah sedih dan down

Kamu masih inget gak…
Waktu itu hujan deras banget dan aku menggenggam tanganmu di kamar ICU sambil tak hentinya aku berdoa mohon supaya kamu bisa sadar kembali. Gak tau udah seberapa banyak air mataku yang keluar dan mengalir ke tanganmu, sambil berharap kalo hangatnya air mataku bisa membuat tanganmu yang dingin kembali bergerak. Gak tau udah seberapa banyak ciumanku di matamu, sambil berharap kecupanku bisa membuat matamu kembali terbuka. Gak tau udah seberapa banyak kata yang aku ucapkan di telingamu, sambil berharap ceritaku bisa membuat bibirmu kembali tersenyum…

Padahal dokter udah bilang kalo gak ada lagi harapan. Hanya tinggal menunggu waktu. Semua orang udah menyuruhku pulang untuk berisitirahat karena toh tak ada yang bisa aku lakukan disini. Tapi aku gak mau, aku gak mau sedetikpun gak melihat kamu…

Dan malam ini pun hujan deras banget…
Aku kembali basah kuyup, tapi aku gak peduli. Aku mau duduk disini saja. Aku mau selalu disampingmu. Aku cuma mau disini.

Di depan pusaramu…

* Midnight Rain, song, originally composed by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, May 24, 2009
* Midnight Rain, fiction, written by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, June 17, 2009
Copyrights, All Rights Reserved

If you can’t view the video, please click here.

**********

Kalo ngomongin tentang hujan, emang selalu aja ada 2 sisi. Bisa seneng, bisa sedih.

Di satu sisi, gua suka banget ama hujan, gua suka nyium bau-bau hujan, gua suka ngeliat titik-titik air yang jatuh di kaca, gua suka dengerin bunyi hujan, gua suka ama suasana mendung-mendung gelap kalo pas lagi hujan, dan tentunya gua suka ama udara yang dingin karena hujan terutama kalo pas lagi musim panas.

Tapi gua gak suka kalo hujan nya bikin jalanan macet, bikin rumah bocor, bikin kita ribet takut keujanan karena parkirnya di tempat yang gak ada teduhannya, apalagi kalo bikin banjir! Satu lagi yang bikin bete adalah kalo mobil baru dicuci, eh trus hujan!! Hehehe.

Paling asik emang ujan itu pas tengah malem, pas kita lagi tidur, selimutan dan nempel-nempel tidurnya ama orang-orang yang kita cintai. Nikmat banget dah… :)

Kalo kalian gimana… Pada suka atau justru benci ama hujan?

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Shooting Star

When the night has come
And the sun has gone
My heart is glooming
As the dark is falling

But then you come as shooting star
Bringing light from somewhere far
To make the sky sparkling and bright
So I can smile and have good night

Dedicated to Esther, my shooting star, on her birthday
May all your wishes come true…

I love you…

Notes:

If you can’t view the video, please click here.

Shooting Star, song, composed & arranged by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, May 5, 2009, AM

Shooting Star, poem, written by Arman Tjandrawidjaja, Los Angeles, May 8, 2009, PM

(copyrights, all rights reserved)

Dengan kaitkata , , , , , , , , , , ,

Rumah Besar Di Ujung Jalan

Siang itu aku merasa lapar. Lapar sekali. Sudah 2 hari ini aku tak menemukan makanan. Telah kucoba mengetuk beberapa pintu, namun hanya usiran yang kudapat. Telah kucoba menunggu sisa buangan dari rumah makan, namun selalu kalah cepat dengan si kaki empat.

Hingga akhirnya tinggal ini satu-satunya rumah yang belum kucoba. Rumah besar di ujung jalan. Rumah itu besar sekali, membuatku tak punya nyali. Tapi kali ini harus kucoba.

Kuketuk sekali, tak ada jawaban. Dua kali, tak ada jawaban. Hampir saja kubalikkan badan ketika kudengar panggilan dari dalam rumah. Namun pintu yang besar itu tetap tak terbuka. Setelah panggilan yang ketiga, baru kuberanikan diri untuk mendorong pintunya. Ternyata tak terkunci!

Kulangkahkan kakiku ke dalam. Tak pernah kulihat rumah yang begitu besarnya. Langit-langitnya begitu tinggi. Jendela besar berjajar-jajar dengan kaca berwarna-warni. Sungguh indah.

Disana kulihat seorang bapak. Penampilannya bijak dan berwibawa. Melihatnya saja sudah membuatku damai. Segera pula aku merasa senang. Perasaan lapar dan haus langsung sirna. Entah mengapa. Bapak itu mengajakku berbincang. Kami berbincang dan berbincang. Tak pernah kurasa begitu nyaman. Hingga matahari terbenam dan aku pun beranjak pulang.

Hari itu aku tak lagi lapar. Aku bersenandung senang seolah mendapat mainan.

Besoknya aku kembali kesana. Sekedar berbincang-bincang. Namun saat sore menjelang, mulai banyak orang berdatangan. Aku jadi bingung, apakah mereka akan berpesta? Tapi aku tak diundang sehingga aku ingin segera pergi saja. Namun bapak yang punya rumah berkata, bahwa aku juga diundang. Tentu saja aku senang, belum pernah aku diundang pesta!

Tapi aku juga punya rasa. Tak ada seorangpun mau duduk denganku. Mereka memandang menghina, bahkan ada yang mencibir jelas. Mereka menutup hidung dan mengibas tangan. Aku pun sadar, aku tak pantas. Tak kuhiraukan panggilan sang bapak, segera kulangkahkan kakiku keluar.

Aku tak tahu harus kemana. Rumah kardusku sudah tak ada. Udara semakin dingin karena hujan semalaman. Aku benar-benar tak tahu harus kemana.

Hingga setelah berjalan berputar-putar, sampailah aku kembali ke rumah itu. Rumah besar di ujung jalan.

Sepertinya pestanya sudah usai. Namun walaupun sepi dan gelap, rumah itu tampak bersahabat. Tak seperti rumah-rumah lain yang berkesan dingin, rumah besar di ujung jalan ini selalu tampak hangat.

Kakiku yang lelah dan badanku yang penat membuatku tak kuat lagi berjalan. Hanya satu harapanku untuk berteduh. Kulangkahkan kakiku ke rumah itu. Dengan gemetar tanganku membuka pintunya.

Dan di dalam sana, kulihat sebuah meja panjang penuh dengan makanan. Lilin dan bunga ada dimana-mana. Ternyata pesta itu belum selesai. Namun tak tampak lagi tamu-tamu disana. Yang ada hanya bapak yang punya rumah.

“Masuklah anakku. Aku telah menunggumu.”

Aku? Aku yang bau ini? Aku yang hina ini? Benarkah aku?

Aku, dan hanya aku, yang diundang ke pesta malam ini.

Kusantap semua makanan disana. Tak ada satupun yang tak enak. Sang bapak hanya tertawa melihatku kalap. Aku pun ikut tertawa. Kami bercengkerama, tertawa-tawa, sepanjang malam.

Hingga pagi menjelang, dan orang-orang mulai kembali datang. Kepanikanku pun kembali menerjang. Aku ingin beranjak pergi sebelum mereka mulai menghina. Tapi kakiku tak mau melangkah. Aku tak bisa jalan!

Ternyata bapak itu menahanku. Bapak itu berkata bahwa ini rumahku. Aku sudah pulang.

Apakah aku tak salah dengar? Ini rumahku? Aku boleh tinggal disini selamanya? Aku tak perlu lagi takut kedinginan? Aku tak perlu lagi takut kelaparan? Aku tak perlu lagi takut kehujanan? Aku tak perlu lagi takut dihina orang?

Sang bapak mengangguk dengan senyuman.

Dan aku merasa lega. Lepas. Ringan. Melayang.

Aku melayang! Aku melayang ke atas. Menuju ke arah cahaya.

Tapi tunggu, kulihat tamu-tamu yang lain sedang berkerumun. Dan disana kulihat diriku sendiri sedang tertidur. Tersenyum. Bahagia. Bahagia tiada tara.

Aku kembali menengadah. Terbang ke atas. Bersama Sang Bapa.

Aku sudah pulang.

(Fiction, by Arman, Los Angeles, March 19, 2009)

**********

Apakah hari ini kalian sudah menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan Sang Pencipta?

Dengan kaitkata , ,

Dan Kau…

Dan kau yang menjunjung ku
Tinggi, setinggi-tingginya
Membantuku menggapai langit biru
Meraih balonku yang terbang di atas sana

Dan kau tetap memegangku, erat
Walaupun balon itu telah di tangan
Supaya aku tidak ikut terbang
Dan lupa pada daratan

Dan kau terus merengkuhku, kuat
Sehingga bila angin berhembus kencang
Dan balon itu akhirnya terlepas
Aku takkan jatuh terhempas

Dan kau yang memelukku, lembut
Dengan senyum mu yang tulus
Hingga sedihku takkan berlarut
Saat balon itu meletus

Dan kau adalah ibuku
Yang selalu ada untukku
Dan selalu ada di hatiku
Sampai kapanpun

Selamat hari Ibu!

(by Arman, Los Angeles, December 22, 2008 )

For my dear mom, who always supports and helps me achieving my dreams, gives the best advices and lessons to keep me in faith, be there for me in all my ups and downs, and loves me unconditionally. I love you!

PS. Sebenernya tadinya pengen ngegambar anak yang lagi pegang balon dan digendong ibunya sebagai ilustrasi posting-an ini (gara-gara ngiler setelah ngeliat gambar-gambar ilustrasi di blog-blog nya para ilustrators) yang mana setelah gua coba-coba akhirnya sampe pada kesimpulan kalo gua sama sekali gak punya bakat menggambar! Haha.

Dengan kaitkata

Kado Natal

Malam itu, 12 hari sebelum hari Natal, angin bertiup kencang membuat udara terasa sangat dingin menusuk. Aku berusaha menggerakkan tanganku secepat yang aku bisa, memindahkan kantong-kantong belanja dari kereta dorong supermarket ke dalam bagasi mobil. Ingin rasanya secepat mungkin masuk ke dalam mobil dan menyalakan pemanas. Ingin rasanya secepat mungkin sampai kembali ke rumah dan makan sup hangat yang sedang disiapkan oleh istriku tercinta. Keinginan-keinginan itu yang menambah tenaga tanganku yang hampir kaku kedinginan.

Setelah berhasil memasukkan semua kantong belanja secara sembarangan dan menutup pintu bagasi, aku baru menyadari kalau anakku sudah tak ada lagi disampingku! Detik itu juga rasa panik menjalar ke seluruh tubuhku dan jantungku terasa berhenti berdetak. Kutengok kesekeliling mobil, tapi tetap tak bisa kutemukan dimana dia. Rasa penyesalan langsung mendera. Seharusnya tadi tak kuijinkan dia menunggu di luar mobil. Seharusnya tadi kupaksa saja dia menunggu di dalam mobil walaupun dapat dipastikan dia akan menangis kencang. Seharusnya aku lakukan itu, setidaknya walaupun dia menangis tapi dia tidak hilang!

Segera ku berlari tak tentu arah, mencoba mencari anakku di tengah kegelapan di lapangan parkir itu. Dan ternyata Tuhan masih baik padaku. Tuhan masih mengampuni ku yang lalai mengawasi anakku.

Di ujung gedung supermarket, kulihat anakku. Dia tak apa-apa. Bahkan dia sedang tertawa-tawa dengan suaranya yang khas, kalau tak bisa dibilang melengking, sambil melompat-lompat. Ah, sungguh lega rasanya melihatnya tak kurang satu apapun juga.

Dan disana, bersama anakku, seorang anak perempuan yang mungkin umurnya lebih tua sedikit, sekitar 5 atau 6 tahun, juga sedang tertawa dan melompat-lompat. Entah sedang bermain apa mereka berdua. Tapi sekali lagi aku lega karena ternyata anakku hanya sedang bermain dengan anak yang lain.

Segera kupanggil nama anakku. Anakku melihatku dan melambai sambil tetap tertawa-tawa. Sementara anak perempuan itu, langsung terdiam dan tertegun. Dan sebelum sempat aku bertanya siapa namanya dan dimana orang tuanya, karena tak kulihat ada orang dewasa di sekitar mereka, si anak perempuan itu langsung berlari. Berlari ke sudut belakang bangunan supermarket yang sangat gelap.

Setelah tertegun sedetik, karena rasa penasaran, segera kugandeng tangan anakku, dan kami pun berjalan mengikuti si anak perempuan itu. Dan disitulah aku melihatnya. Duduk di bawah pohon beralaskan sehelai kain kumal. Dan disebelahnya duduk seorang ibu tua yang begitu melihatku, langsung berdiri seraya berjalan menghampiriku sambil meminta uang.

Keterkejutan membuatku berhenti melangkah. Dan saat itu juga kugendong anakku, berbalik badan, dan setengah berlari kulangkahkan kakiku ke arah mobil. Setengah marah dan kesal, kupacu mobilku pulang.

“Jangan bermain dengan orang-orang seperti itu lagi! Mereka tidak pernah mandi. Badan mereka kotor. Pasti banyak kuman penyakit yang bisa dengan mudah berpindah ke badanmu bila kamu berdekatan dengan mereka!”

“Tapi kita hanya bermain…”

“Pokoknya kamu tidak boleh mendekati gelandangan seperti anak itu tadi! Titik. Jangan membantah!”

Dan segala kesibukan menjelang Natal telah membuat kami melupakan kejadian malam itu. Membeli pohon Natal, belanja hiasan dan lampu Natal, menghias pohon Natal, mengirim kartu Natal, dan segala persiapan yang kita lakukan untuk menyambut hari Natal untuk memperingati lahirnya Sang Juru Selamat dengan meriah membuat hari-hari berikutnya terasa sangat cepat berlalu.

Hingga hari yang sangat ditunggu-tunggu pun tiba. Rumah telah dihias cantik, kado-kado telah dibeli, dan menu makan malam lengkap sedang dipersiapkan untuk pesta malam ini. Namun walaupun sudah dipersiapkan dari hari-hari sebelumnya, selalu saja ada yang terlupa di detik-detik terakhir. Dan itulah yang membawaku, dan anakku tentu saja karena dia sangat suka naik mobil dan tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk naik mobil tentunya, kembali ke supermarket itu.

Setelah menyelesaikan belanja secepat kilat, kami pun segera menuju ke pintu keluar. Saat itulah aku teringat bahwa kado-kado Natal masih tersembunyi di dalam bagasi mobil. Saat itu juga aku memutuskan agar anakku menunggu dulu di dalam supermarket, di belakang pintu, sambil menjaga keranjang belanja kami, sementara aku akan ke mobil sendirian untuk menyembunyikan kado-kado dulu sebisa mungkin supaya anakku tak melihatnya nanti. Tentunya tak lupa aku berpesan agar dia menunggu diam disana dan tidak kemana-mana.

Segera kuberlari menuju mobil, menutupi kado-kado dengan kertas koran yang ada di bagasi, dan pada detik pintu bagasi kututup, terdengar bunyi tabrakan yang sangat keras berasal dari belakangku disusul dengan bunyi alarm yang memekakkan telinga. Langung kuputar badanku mengarah ke pintu supermarket dan disana kulihat tragedi yang mengerikan itu. Sebuah mobil menabrak pintu supermarket sehingga pitu yang terbuat dari kaca itu pun pecah berkeping-keping dan sebuah keranjang belanja terlindas di bawah roda dengan kantong dan beberapa barang berserakan di sekitarnya.

Anakku!! Ya Tuhan…. anakku ada di sana!!!

Kembali jantungku berhenti berdetak, tidak hanya rasa panik yang menjalar di seluruh badanku tapi rasanya aku ingin mati saja!

Segera ku berlari ke arah tabrakan terjadi, namun belum sampai aku ke sana, sekilas kulihat seorang anak dengan muka pucat pasi sedang berdiri tertegun di luar supermarket tidak sampai 10 meter dari situ!

Kakiku pun berlari mengarah kesana. Dan disana kutemukan anakku sedang berdiri ketakutan. Segera kupeluk dan kugendong dia sambil menangis. Saat kutanya apakah dia baik-baik saja, dia hanya mengangguk. Kuteliti seluruh badannya dan memang dia baik-baik saja. Tak ada luka sedikitpun. Puji Tuhan!

Dan perlahan-lahan anakku mulai bercerita. Bahwa setelah aku meninggalkannya di dalam supermarket, si anak perempuan gelandangan memanggilnya dari luar pintu. Tapi dia ingat pesanku untuk tidak bermain dengan si anak perempuan itu. Tapi anak perempuan itu memaksa, katanya dia ingin menunjukkan bahwa dia punya permainan yang baru. Dan karena anakku tetap tak mau keluar, akhirnya anak perempuan itu masuk dan menggandengnya keluar menuju ke arah belakang bangunan tempat dimana mereka bermain pada malam 12 hari yang lalu. Terkejut karena tidak menyangka si anak perempuan akan melakukan itu, keranjang belanja pun tertinggal di dalam supermarket. Dan belum sempat mereka sampai di tempat yang mereka tuju, tabrakan itu pun terjadi.

Mendengar cerita itu, sambil mengusap air mata dan berterima kasih kepada Tuhan, aku segera mengajak anakku untuk mencari anak perempuan itu. Walaupun hanya kebetulan, aku ingin berterima kasih kepadanya. Dan aku ingin memberi sekedar uang supaya dia dan ibunya bisa merayakan Natal ini dengan lebih layak. Aku seperti diingatkan bahwa merayakan Natal seharusnya bukan hanya dengan pesta, pohon Natal dan kado-kado di bawahnya, tapi juga dengan membagi suka cita ini dengan sesama yang tidak mampu. Aku jadi teringat bagaimana Maria dan Yusuf yang ditolak dari semua penginapan yang ada sehingga Yesus harus dilahirkan di kandang domba. Sang Juru Selamat justru terlahir bukan di dalam rumah yang hangat, yang punya pohon Natal dengan hiasan dan lampu-lampunya, dimana banyak kado bertumpuk, dan penuh dengan makanan lezat. Bukan seperti itu. Sang Juru Selamat justru lahir di kandang domba yang dingin, hanya beralas jerami, dan diterangi bintang. Seperti halnya si anak perempuan dan ibunya yang hanya tidur di bawah pohon di belakang supermarket itu.

Kami pun berjalan bergandengan ke arah pohon dimana mereka tinggal. Tapi tak kutemukan mereka disana. Barang-barang mereka pun tak ada lagi di sana. Kami mencari ke seluruh sudut bangunan, namun tak bisa kutemukan mereka. Mungkin mereka ketakutan melihat banyak polisi yang datang. Mungkin mereka takut ditangkap dan sekarang bersembunyi ke tempat yang lain.

Begitupun keesokan harinya, di hari Natal yang cerah, aku bersama istri dan anakku, kembali mencari si anak perempuan dan ibunya. Dari lokasi supermarket, hingga kususuri jalan-jalan di sekitar sana, namun tak juga kutemukan mereka. Dan juga hari-hari berikutnya, tak pernah lagi kulihat mereka.

Mungkin memang mereka takut ditangkap. Mungkin mereka sudah menemukan tempat persembunyian yang lain. Mungkin mereka sudah menemukan tempat lain yang lebih nyaman sebagai tempat tinggal.

Tapi mungkin juga karena tugas mereka sudah selesai disini.

(Fiction, by Arman, Los Angeles, December 13, 2008 )

**********
It’s 12 more days to Christmas…
Are you ready to receive The Saviour?

Dengan kaitkata , , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.451 pengikut lainnya.